Sejauh mana Indonesia akan sanggup menghadapi masa depan yang modern dan berbasis teknologi yang mudah diakses, mari kita simak review berikut ini.
- Teknologi VS Pendidikan Indonesia
Proses pendidikan di Indonesia saat ini mengandung suatu
ketertinggalan pola pendidikan dibandingkan negara lain karena prosesnya
masih konvensional yang mengandalkan tatap muka antara pendidik dan
yang dididik. Padahal penggunaan IT bukanlah suatu wacana yang asing di
Australia. Pemanfaatan IT dalam bidang pendidikan sudah merupakan
kelaziman di Australia pada dasawarsa yang telah lalu dengan menetapkan
kurikulum pendidikan yang memungkinkan siswa/mahasiswa dapat
mengeksplore kemampuan semenjak SD sampai Perguruan Tinggi karena sistem
pendidikan mereka sudah terintegrasi dengan infrastruktur IT.
Dengan melakukan perbandingan sistem pendidikan di Negara lain,
mungkin pantas prestasi pendidikan Indonesia hanya menduduki peringkat
62 dari 130 negara dengan Education Development Index (EDI) sebesar
0.935 masih kalah dengan Malaysia (0.945) dan Brunei Darusalam (0.965)
sumber : UNESCO
Sistem konvensional ini seharusnya sudah ditinggalkan sejak
ditemukannya media komunikasi multimedia, karena dengan adanya internet,
siswa dapat memanfaatkan program-program pendidikan kapan dan di mana
saja. Teknologi interaktif ini memberikan katalis bagi terjadinya
perubahan mendasar terhadap peran guru: dari informasi ke transformasi,
dengan Pemberdayaan ICT dalam Proses Belajar Mengajar yang menjelaskan
pembelajaran secara virtual seperti chatting journal, email dan
sebagainya. Ada lima cara yang dilakukan dalam tahap pembelajaran
virtual, yaitu, kurikulum digital, metodologi belajar,
proffesional developmental, teknologi, dan konektivitas. Ia mengharapkan lima cara ini dapat mulai digunakan di universitas-universitas di Indonesia.
- Hambatan Implementasi Infrastruktur IT untuk Pendidikan di Indonesia
Walaupun internet sudah dirasakan manfaatnya, tetapi keberadaanya
tidak merata untuk semua lapisan institusi pendidikan, sehingga
memunculkan terjadinya
digital divide (kesenjangan digital).
Menurut data Pusat Penelitian Teknologi Informasi dan Aplikasi
presentase penggunaan internet adalah 30% pada pendidikan tingkat atas,
6% pada penelitian institusi.
Kurangnya infrastruktur teknologi telekomunikasi, multimedia dan
informasi yang merupakan prasayarat implementasi IT untuk pendidikan di
Indonesia menjadi hambatannya. Disamping itu, penetrasi PC (Personal
Computer) di Indonesia masih rendah, biaya untuk melakukan akses
internet masih mahal, hanya institusi tertentu saja yang sudah memiliki
fasilitas memadai yang dapat mengakses internet. Disini peran pemerintah
sebagi pembuat kebijakan mampu membuat iklim yang kondusif dalam
pemerataan infrastruktur IT di Indonesia. Terbukti dengan pendanaan di
bidang pendidikan masih sekitar 11,2% dari yang seharusnya 20% dari
APBN. Jauh lebih kecil dibanding dengan Negara Australia sebesar 94%
bersumber dari pemerintah baik dari
commonwealth maupun Negara bagian.
Untuk mejawab berbagai tantangan dalam dunia bisnis, dibutuhkan
organisasi Teknologi Informasi/TI internal atau IT Infrastructure
(Infrastruktur Teknologi Informasi) yang handal. Di mana menurut analis,
70% dari budget IT dihabiskan di infrastruktur, seperti pengadaan
server, sistem operasi, perangkat jaringan dan perangkat penyimpanan
data. Berdasarkan data tersebut, bisa dikatakan infrastruktur TI
merupakan aset penting perusahaan yang harus dikelola dan dikendalikan
secara efisien, sesuai dengan prioritas bisnis agar dapat mencapai
harapan.
- Teknologi , Budaya, dan Kemiskinan
Membicarakan teknologi lebih jauh, berarti membicarakan beberapa
sikap yang membatasi pandangan seseorang mengenai teknologi. Sistem
teknologi meliputi manusia dan mesin. Tingkatan keduanya adalah setara.
Namun pada kenyataannya manusia, karena merasa dirinya sebagai ’user’
dari mesin, seringkali memposisikan diri lebih tinggi. Hal tersebut
berkaitan dengan budaya yang terjadi di masyarakat. Ketika sebuah mesin
produk teknologi mengalami kerusakan, seringkali yang disalahkan adalah
mesin itu sendiri. Mesin yang buruk, tidak tahan lama, kurang canggih,
dan alasan lainnya. Manusia sering mengesampingkan alasan bahwa mesin
itu kurang dirawat oleh manusia. Manusia cenderung terfokus pada aspek
teknik dari setiap masalah yang bersifat praktis. Dan mereka lalu mulai
berfikir tentang kemampuan luar biasa lainnya yang dapat diciptakan
melalui teknologi. Manusia makin mengharapkan teknologi dapat
menyelesaikan setiap
masalah.Yang
perlu disadari, teknologi tidak selamanya dipuja dan dibutuhkan begitu
saja oleh masyarakat di seluruh dunia. Teknologi juga harus diiringi
dengan perkembangan pendidikan dan pengetahuan. Menjamurnya
teknisi-teknisi juga tidak akan berpengaruh jika mayoritas penduduknya
tidak terpelajar. Dengan demikian, perkembangan teknologi harus
diimbangi dengan perkembangan sosial, pendidikan, dan kebudayaan.
Persaingan teknologi di dunia barat yang semakin sengit juga
berdampak pada Indonesia. Kembang-kempisnya Indonesia tergantung kepada
negara-negara luar karena masih terjajah dalam hal ekonomi dan
teknologi. Walaupun demikian, ironisnya banyak orang yang bangga dengan
apa yang dimilikinya sehingga ia tidak peduli terhadap tetangga dan
individualisme menjadi ciri khas mereka. Akibatnya, di samping krisis
ekonomi juga krisis mental dan paradigma yang ditimbulkan karena
penyalahpahaman makna serta fungsi teknologi. Demikian juga sering kita
saksikan bersama, kerukunan/kebersamaan, kerkompakan dan
kegotongroyongan nyaris tidak terlihat lagi. Tradisionalisme dianggap
tabu dan layak dimuseumkan. Jika hal tersebut sudah meniadi kebiasaan
(folkways) maka step by step negara akan segera kehilangan identitasnya.
Di satu sisi teknologi besar manfaatnya bagi kita, namun di sisi yang
lain mudharatnyapun sering kita rasakan. Keduanya itu bersifat relatif
tergantung yang menggunakannya. Jika yang menggunakan didasarkan pada
fungsi yang sebenarna, hasilnyapun akan memuaskan. Tapi sebaliknya jika
yang menggunakan hanya asal-asalan dalam artian tidak berdasar pada
fungsi yang sebenarnya. Maka teknologi hanya akan menjadi momok bagi
kita.
- Dampak Perkembangan Teknologi
Bidang Ekonomi
- Pertumbuhan telekomunikasi sebesar 1% secara langsung atau tak
langsung memberikan dampak terhadap pertumbuhan ekonomi sebesar 3%
(ITU).
- Peningkatan aktivitas perdagangan akibat pertumbuhan telekomunikasi
- Penyerapan Tenaga Kerja ( padat karya )
Bidangan Telekomunikasi & Budaya
- Internet pemicu antisocial behavior dan anonymous karena tidak bertatap muka secara langsung
- Budaya kita tidak/kurang belajar dari sejarah yang menyukai jalan pintas
Bidang Sosial Budaya
- Manusia merupakan pengubah (subjek) dan sekaligus sasaran (objek) dari perubahan
- Memudahkan aktivitas manusia
- Penyebab kesenjangan ekonomi dan sosial.
- Teknologi tepat guna menjadi tidak popular
Bidang Budaya Birokrat
- Budaya terbuka
- Disiplin
- Lisan menjadi tertulis
- Hirarki menjadi jaringan
- Berbagi Informasi agar tidak Gagap Teknologi
- Loncatan budaya
Bidang Bisnis
- e-Bisnis baru
- Pangsa Pasar baru (new wave marketing)
- Riset Pasar murah (media jejaring sosial)
- 24 jam /7 hari
- Ubiquitous: every one, every where & every time
- Ancaman Global
Bidang Pendidikan
- Dampak Positif : perubahan sarana belajar, kemudahan mendapat
informasi dan bahan belajar, munculnya sarana belajar online
(e-learning), luas jangkauan komunitas dan interaksi, knowledge sharing,
peningkatan Social interactions, walaupun secara online, budaya dengar
ke budaya menonton, sarana video, televisi, collaborative and
participatory, belajar mandiri
- Dampak Negatif : berkurangnya nilai kemanusiaan, jarangnya interaksi
secara fisik, ikatan emosi dan penghargaan kepada guru akan berkurang,
perubahan mental siswa karena pornografi melalui internet
- Dukungan Regulasi untuk Membangun Komunitas Cerdas
Dari pengertian regulasi sendiri, masih banyak pihak yang berselisih.
Yang sering dilakukan oleh pemerintah adalah menjadikan regulasi berisi
larangan-larangan yang seharusnya dilakukan setiap pelaku IT. Padahal
dari pandangan praktisi dan dunia industri, regulasi seharusnya
mengatur, bukan sekedar melarang, bagaimana penerapan teknologi
dilakukan. Sedangkan masyarakat umum, justru menjerit karena ternyata
regulasi seharusnya berorientasi untuk memperjelas kontribusi penerapan
teknologi bagi kesejahteraan masyarakat.
Dampak dari ketidakjelasan ini salah satunya adalah permainan
kepentingan pihak tertentu. Jika dari sudut pandang dunia industri
pengaturan yang diharapkan pasti menyangkut cakupan bisnis mereka.
Termasuk bagaimana persaingan dengan provider lainnya, dan bagaimana
keuntungan bisa mereka peroleh. Masyarakat tentunya menginginkan adanya
kejelasan nasib mereka jika teknologi diterapkan. Misalnya saja
bagaimana pemerintah masih setengah hati untuk menerapkan teknologi
Voip, karena alasan berpengaruh negatif bagi industri telekomunikasi
yang lain. Padahal masalahnya ada pada biaya yang murah, Voip jelas
memiliki biaya lebih murah dibanding telepon yang umum digunakan saat
ini. Seharusnya regulasi yang dibuat bisa mengatur penerapan teknologi
Voip bagi telepon murah, agar masyarakat kelas bawah juga bisa menikmati
teknologi.
Regulasi ICT tenyata tidak semudah yang kita bayangkan. Banyak hal
yang akan berkaitan di sana. Sampai dimana batasan ICT itu sendiri,
masih sangat luas. Kalau dulu kita bisa saja mengartikan pertukaran
suara (voice), lewat media tembaga. Tapi sekarang sudah semakin canggih.
Tidak hanya suara, tapi disana juga ada data, yang bisa berarti image,
document, music & video, dan banyak layanan lainnya. Dan tidak hanya
itu, medianya pun sudah berkembang menggunakan frekuensi. Bahkan
teknologi ini bisa saja terintegrasi melalui jaringan, perangkat lunak,
dan perangkat elektronik lainnya. Sehingga pertanyaannya adalah bagian
mana dari teknologi ini yang harus diatur dan bagaimana cara
mengaturnya?
Perkembangan teknologi justru bisa terhambat karena tidak adanya
regulasi. Dan ini sudah kita rasakan ketika pembahasan RUU ITE
(Informasi dan Transaksi Elektronik) yang dilakukan pemerintah dan DPR
semakin berlarut-larut. Padahal RUU ITE itu sangat penting keberadaannya
untuk mengatur transaksi elektronik yang sering kita lakukan di
Internet.
Akibatnya Indonesia masih tidak bisa mengakses e-commerce untuk
transaksi dunia, atau dengan kata lain kita belum bisa beli barang lewat
internet.
Kondisinya saat ini, pemerintah selalu terlambat dalam melihat
perkembangan teknologi. Dan memiliki respon yang lambat untuk bisa
membuat regulasinya. Alasan SDM selalu menjadi kambing hitam
permasalahan, walaupun saat ini pembahasan regulasi terkadang telah
melibatkan masyarakat IT. Tapi tetap saja dengan pengetahuan yang minim
dari SDM pemerintah tentang teknologi, ditambah lagi pembahasan yang
dilakukan selalu berlarut-larut. Belum lagi para regulator terkesan
mempolitisir aturan-aturan yang ada, demi
kepentingan politik atau bisnis.
Menjawab tantangan atau hambatan dalam implementasi infrastruktur IT
untuk pendidikan di Indonesia perlu adanya solusi agar infrastruktur IT
dalam hal ini internet dapat dirasakan oleh setiap lapisan institusi
pendidikan. Adapun kebijakan tersebut antara lain :
- Bebas lisensi untuk ISP (Internet Service Provider) bagi dinas pendidikan daerah/pusat
- Tarif khusus untuk Jaringan Komputer Pendidikan
- Free Hosting untuk Portal Pendidikan
- Alokasi Frekuensi khusus (Wimax, WiFi) untuk jaringan internet agar dapat dijangkau oleh institusi yang masih terpencil
- Tax Holiday, untuk kegiatan pengembangan sumber daya manusia
- Penghapusan pajak bagi kegiatan penelitian
- Seed Capital untuk konten pengembang bidang pendidikan dan penelitian dan pengembangan
- Paket laptop murah untuk siswa/mahasiswa, optimalisasi dana CSR (Capital Social Responsibility)
- Berbagai intensif seperti pendanaan khusus (seed capital), subsidi,
keringanan perpajakan, dan lain-lain merupakan salah satu mekanisme
bantuan pemerintah yang sangat efektif dalam menciptakan iklim agar
kegiatan penelitian dan pengembangan teknologi dapat tumbuh subur.
- Telekomunikasi sebagai pemicu budaya perlu dicermati dengan bijaksana
- Peran Pemerintah dalam menciptakan regulasi yang benar, bijak, dan melindungi masyarakat
- Masyarakat sebagai konsumen perlu melakukan filter terhadap budaya
teknologi telekomunikasi yang “tidak sesuai” dengan budaya Indonesia
- Kesanggupan Indonesia menghadapi teknologi yang mudah diakses
Dengan infrastruktur IT yang memadai diharapkan menjadi sebuah kunci
dalam mendukung proses pendidikan dan untuk mengembangkan kapasitas
bangsa sehingga menciptakan pendidikan yang efektif dan efisien dalam
penerapan kehidupan khususnya di bidang IT agar keberadaanya memudahkan
kehidupan manusia. Jika kebutuhan ini sudah terpenuhi, mungkin ke
depannya yang dibicarakan bukanlah pemenuhan ‘kuantitas’ tetapi
‘kualitas’ informasi.
Hal yang paling ampuh agar kita selalu cepat dan tanggap menyikapi
perubahan adalah dengan belajar. Melalui proses pembelajaran, kita
menjadi tahu apa yang sebelumnya tidak kita tahu, memahami apa yang
sebelumnya tidak kita pahami, dan akhirnya menerima apa yang tadinya
tidak kita terima. Bila kita sudah mengkondisikan diri kita untuk
belajar, maka kita akan selalu siap menerima hal baru. Alangkah baiknya
bila semua karyawan menyadari pentingnya belajar dan melakukannya secara
mandiri.
Saya setuju dengan pernyataan belajar adalah kunci sukses sebuah
perubahan. Mewujudkan kemandirian dalam hal belajar memang sulit bagi
perusahaan. Hal inilah yang menjadi penyebab mengapa penerapan TI di
banyak perusahaan mengalami banyak hambatan. Menumbuhkan kebiasaan
belajar merupakan pekerjaan rumah bagi siapapun dalam perusahaan yang
ingin menerapkan TI.
Meningkatkan minat belajar secara mandiri membantu pelaksanaan
penerapan TI dalam perusahaan. Perusahaan yang memiliki kemampuan
belajar dan mengubah apa yang dipelajari menjadi langkah perbaikan
secara cepat dan terus menerus akan mampu menjadi pemimpin dalam
kompetisi global. Cara berpikir yang terbuka dan positif terhadap
perubahan, serta berorientasi ke depan membantu perusahaan untuk menjadi
yang terdepan dan unggul.
Memang betul bahwa manusia memiliki keterbatasan. Keterbatasan inilah
yang lalu harus ditutupi oleh teknologi. Bagaimana pun, kendali tetap
sepenuhnya ada di tangan manusia. Oleh sebab itu, pendidikan manusia
tetap harus berada pada peringkat ke-satu, serta tidak hanya melakukan
pemujaan terhadap teknologi tinggi belaka.
Kesimpulannya, bagi praktisi bisnis yang ingin menerapkan teknologi
(tidak hanya terbatas pada TI), kita harus selalu mengimbangi
perkembangan teknologi dengan pembangunan mental SDM. Misalnya dengan
menggunakan management tools untuk Human Resources Development, yaitu:
Performance Management, Team Building, Leadership, Supervisory
Management, dan sebagainya, atau secara lebih fokus dapat menerapkan
Change Management sehingga para karyawan mampu mengadaptasi perubahan
lingkungan eksternal untuk mencapai tujuan internal baru.